UJI KANDUNGAN PESTISIDA DAN PUPUK KIMIA PADA BAHAN PANGAN SEGAR ASAL TUMBUHAN (PSAT)

Kepala Dinas Ketahanan Pangan Antonius Letsoin, S.P. dan alat uji pestisida dan pupuk kimia yang dinamakan G9 Fast Pesticides Detection Kit

Mappi-(22/07/2020). Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Mappi melaksanakan kegiatan Pengujian Kandungan Pestisida dan Pupuk Kimia pada Bahan Pangan Segar Asal Tumbuhan (PSAT) di Kantor Dinas Ketahanan Pangan. Kegiatan ini adalah serangkaian kegiatan Bidang Keamanan Pangan yang terdapat pada DPA Dinas Ketahanan Pangan tahun 2020. Kegiatan ini dilakukan  di 6 titik lokasi, yaitu Kepi, Senggo, Bade, Eci, Mur, dan Yagatsu atau Haju. Pada lima lokasi selain Kepi, dilakukan 1 kali pengujian dalam setahun. Sedangkan pada wilayah Kepi, dilakukan 3 sampai 4 kali pengujian dalam setahun.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan Antonius Letsoin, S.P. mengatakan bahwa tujuan dilakukannya pengujian ini adalah untuk menjaga kondisi bahan Pangan Segar Asal Tumbuhan yang  beredar di lapangan, baik itu di pasar, kios dan tempat penjualan lainnya  bebas dari kandungan pestisida dan pupuk kimiawi yang berlebihan, sehingga masyarakat atau konsumen aman dalam mengonsumsi bahan pangan segar asal tumbuhan ini.

Dalam pengujian yang dilakukan di Kantor Dinas Ketahanan Pangan ini terdapat 12 jenis sayuran dan sayuran buah yang digunakan sebagai sampel dalam pengujian, yaitu kangkung, sawi, wortel, kentang, kacang panjang, gambas, cabai, buncis, bayam, labu kuning, kol, dan tomat yang berasal dari Pasar Kepi, lapak-lapak penjualan sayuran (kios) dan dari lahan masyarakat.

Menurut Kadis Ketahanan Pangan, pengujian tersebut menggunakan alat yang dinamakan G9 Fast Pesticides Detection Kit atau biasa disebut dengan Rapid Test khusus tumbuhan. Alat ini sangat praktis untuk mengetahui kandungan pupuk dan pestisida yang berlebihan yang terkandung pada bahan pangan. “Kami bersyukur bahwa pengujian yang dilakukan mulai dari Triwulan I hingga Triwulan III ini hasilnya negatif atau masih dalam batas yang normal termasuk pengujian di 5 Distrik lainnya”, ujarnya.

Ketika ditanya soal sangsi yang diberikan bilamana terdapat sampel yang positif, Antonius Letsoin, S.P. mengatakan bahwa saat ini belum ada payung hukum berupa Peraturan Daerah tentang Keamanan Bahan Pangan Segar Asal Tumbuhan yang menjadi dasar bagi kami untuk melakukan tindakan-tindakan tegas. Kami baru menyiapkan draf Raperda untuk dimasukkan dalam Prolegda agar dibahas bersama dengan DPRD pada masa sidang berikutnya. “Namun jika saat ini terdapat bahan pangan yang mengandung bahan kimia yang berlebihan (Positif Rapid)  maka kami mengambil langkah-langkah persuasif agar petani dan atau penjual tidak menjual bahan pangan tersebut dan kepada petani agar tidak menggunakan pestisida dan pupuk kimia secara berlebihan tetapi tetap pada dosis yang sesuai dan kami menyarankan untuk menggunakan pupuk organik yang ramah lingkungan”, tegas Antonius Letsoin, S.P.

Lebih lanjut dikatakan selain melakukan pengujian kandungan bahan kimia ini, kami juga sering ke lahan-lahan masyarakat untuk memberikan pemahaman dan juga cara penggunaan pupuk dan pestisida yang tepat dosis agar tidak memberikan dampak yang buruk bagi kesehatan konsumen secara umum dan secara khusus bagi petani itu sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *